Masalah Menyikapi Masalah

masalahku.jpgAku ditegur oleh seorang sahabat, “kenapa blog kamu tak pernah di update? “ Aku menjawabnya dengan senyuman. Terus dilanjutkannya; “berani ngblog ya harus diisi terus.” Dalam hatiku aku bergumam, “ya seharusnya begitu”.

Nah, hari ini aku datang. Semoga kedatanganku melepaskan kerinduan penggemarku (cie.. elah sok terkenal dan dibutuhkan). Tidak banyak yang dapat kuungkapkan hari ini. Mungkin sebuah cerita perjalanan hidup. Bahwa beberapa hari ini aku dipertemukan oleh Yang Maha Kuasa dengan orang-orang yang bermasalah dalam mengarungi kehidupan ini.

Siapa sih yang tidak punya masalah dalam hidup ini? Kayaknya semuanya deh. Hari-hari ini dilingkupi dengan masalah. Selesai masalah satu kita akan dihadang oleh masalah baru yang datang tanpa diundang. Bahkan matipun kita akan dihadapkan pada masalah.

Lalu apakah kita menolak? Tentu nggak bisa, semuanya akan mengalir seperti air dari hulu ke muara. Masalah dengan kita seperti tubuh dengan bayangan yang selalu mengikuti kemana kita pergi. Lalu apakah kita akan dapat menghindar? Juga tidak bisa. Lari dari masalah akan menambah masalah baru.

Yang pasti masalah itu adalah problem. Masalahnya adalah bagaimana kita memenej masalah itu menjadi energy positif sehingga menghasilkan yang positif pula. Jangan kita biarkan masalah yang meililit kita menjadi energy negative yang akan menghanyutkan waktu-waktu kita ke arah negative sehingga membuat hidup kita menjadi merugi. Kata orang bijak sih, termasuk ada dalam hadistnya Nabi Muhammad SAW, siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia termasuk orang beruntung. Tapi hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi.

Nah kalau Allah SWT juga pernah mengungkapkan masalah kerugian manusia, khusus untuk menegaskan masalah ini bahkan Allah SWT bersumpah demi waktu (QS Al Ashri). Orang yang tidak merugi dinyatakan Allah adalah orang yang beriman dan melakukan perbuatan yang baik dalam mengisi waktu-waktunya.

Kembali kepada memenej masalah, agar tidak terjerumus menjadi hamba yang merugi, tentunya yang perlu dilakukan kata para ahli yang tak mau disebutkan namanya (alah …bilang aja lupa heee hhee) adalah membedakan antara fakta dan masalah itu sendiri. Dalam hal ini fakta merupakan sesuatu yang tidak bisa diubah karena sudah menjadi kenyataan (takdir). Namun sebaliknya kalau yang disebut masalah pasti ada jalan keluarnya.

Salah satu contoh: kita tak punya uang. Fakta di sini adalah kita tak punya uang. Sedangkan yang jadi masalahnya adalah bagaimana kita mempunyai uang. Fakta tidak mempunyai uang adalah sebuah kenyataan yang tidak perlu dipikirkan lagi, itu sudah selesai. Yang perlu kita pikirkan adalah masalahnya bagaimana mendapatkan uang. Solusinya adalah berkerja, menghutang dulu dan lain-lain.

Nah tentunya yang perlu kita lakukan untuk membantu untuk mencari solusi dari masalah-masalah yang kita hadapi adalah dengan membiasakan diri menuliskan dua lajur yang berbeda antara masalah dan fakta itu. Buat daftar lis fakta yang kita hadapi sehari-hari dan buat pula list masalahnya. Lalu buat pula daftar kira-kira solusi yang mungkin membantu menuntaskan masalah itu. Bisa jadi kita akan menemukan beberapa solusi yang harus diambil. Nah ini akan membingungkan. Mengutip para ahli lagi yang harus kita ambil adalah solusi yang paling kecil resikonya. Begitulah.

Balik lagi ke masalah merugi yang tadi disebut-sebut bahwa kecuali orang yang beriman dan selalu melakukan perbuatan baik. Tentunya dan selayaknya sebagai hamba yang beriman kepada Allah SWT, kita tidak akan melupakan campur tangan Allah SWT kepada setiap helaan nafas kita. Dalam hal ini kita tidak dapat memungkirinya, karena Ia Yang Menciptakan, Yang Memberi Rejeki dan Yang Menetapkan Segala Urusan kita.

Lihatlah diri kita antara kita dengan Allah tidak akan dapat dipisahkan karena di dalam diri kita ada Nur Allah yaitu ruh kita. Ruh dengan jasad kita selalu menyatu, kalau sudah memisah maka lain artinya. Tubuh tanpa ruh akan disebud mayit, akan tetapi kalau ruh tanpa jasad disebut apa ayo? ( hantu kali..).

Makanya dalam kehidupan kita tidak bisa meninggalkan Allah dalam setiap urusan. Karena ruh kita adalah sinyal Allah. Ruh itu suci ketika kita kotori dengan dosa-dosa maka sinyalnya tidak akan bening (XL kali) atau kuat (mentari kali). Nah ketika kita melakukan kesalahan maka kita harus kembali kepada Allah dengan bertobat dan berjanji tidak akan mengulanginya supaya sinyal Allah kembali kuat kepada kita. Itulah orang beriman.

Dengan demikian ketika kita menghadapi masalah kita akan merasa kuat ketika sinyal Allah kuat kepada kita. Tapi kalau sinyal itu lemah kita akan ditutupi kegelisahan dan kecemasan yang tidak menentu. Karena Allah membiarkan kita begitu saja, kita kan merasa sendiri di tengah keramaian, dunia lapang terasa sempit karena kita tidak mau menghambakan diri kepada Allah. Angkuh Nih Yee…

Selanjutnya usaha-usaha untuk memecahkan masalah yang kita ikuti dengan iman kepada Allah dan melakukan amal shaleh atau perbuatan baik kepada siapa saja makhluk Allah yang lain, tentu kita ikuti dengan doa-doa dan ibadah lainnya, yang satu ini langkah-langkah yang kita lakukan disebut para ulama sebagai takwa. Selanjutnya berserah diri kepada-Nya, tawakal.

Ada baiknya kita renungkan QS At Thalaaq (65) : ayat 2-3,

“ Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar [2]. “

“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.[3]”

Nah, semoga bermanfaat dan masalahmu dapat terselesaikan dengan baik. Ingat, aku hanya seorang hamba, yang kebenaran terungkap di sini semuanya datang dari Allah SWT. Kalau ada kesalahan, itu karena semata-mata kelemahanku sebagai hamba yang naïf. Aku mohon ampun pada Allah SWT. Wallahu ‘alam bi shawab.

One thought on “Masalah Menyikapi Masalah”

  1. Postingan yang sangat menarik 😀 ya memang manusia harus selalu bergerak ke arah yang lebih baik, sehingga hidupnya tidak masuk dalam kategori merugi 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.