Cileduk-Jakarta, Jakarta-Cileduk; masih saja Indonesia

Buka mata, pasang telinga, ini nyata hanya di Indonesia. Agaknya istilah ini tidak asing terdengar di telinga kita. Apalagi istilah ini sudah dipopulerkan oleh salahsatu televisi swasta yang mengangkat cerita realty show dari kenyataan yang ada di negara kita yang bernama Indonesia.

Kalau mendengar istilah; ini nyata hanya di Indonesia, saya jadi ingat seorang penyair sufi Indonesia Alm. Hamid Jabar. Saya ingat dia, karena jauh sebelum istilah ini populer di layar televisi –ketika itu sekitar tahun 2000– saya sering bersilaturrahmi dengan para penyair ini di Majalah Horison. Setiap berkumpul baik dengan Presiden Penyair Soetardji C. Bachri, Jamal D. Rahman maupun penyair lainnya, selalu saja Pak Hamid ini menegur setiap kesalahan atau ketidakdisiplinan dengan ungkapan;”Anda orang Indonesia, ya!”

Kata-kata itu sering dimunculkan Pak Hamid; baik di jalanan, di rumah makan, di mana saja Pak Hamid ini bergaul dengan orang-orang. Dengan tingkahnya yang enjoy dan luwes, meskipun kata-katanya bersayap, orang-orang yang mendengarnya tidak marah, malah sebaliknya senyum. Begitulah cara penyair yang gugur disaat menyair ini menyampaikan koreksian ke orang-orang yang ditemuinya. Lewat guyonan namun mengena.

Masalahnya adalah, sudah begitu bobrokah moral kita, bangsa Indonesia ini, sehingga kata-kata orang Indonesia yang diungkapkan selalu Pak Hamid ini menjadi cap ketidakdisiplinan, tidak mau diatur, tidak sadar diri dan malah tak peduli dengan orang lain. Saya yakin seorang Pak Hamid tidaklah bermaksud menghina bangsa Indonesia, toh beliau juga seorang anak Indonesia yang sangat cinta Indonesia. Itu terlihat dari sair-sair yang diungkapkannya.

Maaf, memang itu nyata di Indonesia. Sebut saja seperti judul dari tulisan ini. Ini bermula ketika saya bersama teman naik motor ke Cileduk, Tangerang dari Blok M Jakarta. Apa yang saya rasakan dan apa yang saya alami sulit saya ungkapkan dengan kata-kata.

Benar, saya benar-benar berada di Indonesia. Lalulintas yang semraut dan biskota yang menurunkan penumpang seenaknya, mobil, motor maupun manusia  yang menyeberang semaunya. Akibatnya macet yang tak ketulungan, karena tidak ada yang mau mengalah. Ini adalah pemandangan sehari-hari di Indonesia. Penyair Taufiq Ismail berkata dalam bukunya, ” Saya Malu jadi Orang Indonesia.”

Ya, setidak-tidaknya mungkin kita harus lebih banyak menengok ke luar negara kita. Dimana akan kita dapati penuh kedisiplinan, keteraturan dan tenggang rasa. Dari mana kita memulainya, ya dari diri kita sendiri. Agar suatu saat kita merasakan Cileduk-Jakarta, Jakarta-Cileduk, masih Indonesia. Tapi Indonesia yang kita dambakan. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.