BBM dan Kemiskinan

Sebuah cerita dari negeri kita. Warga negara tidak menjadi  perhatian utama.  Sedih, pilu mengharu biru ketika menyaksikan antrian pembayaran konpensasi naiknya BBM. Berdesakan dalam antrian yang panjang menjadi pemandangan yang membanggakan bagi pemerintah. Katanya, ia telah melakukan yang terbaik untuk rakyatnya. Padahal, di sisi lain harga pokok yang menggila, ongkos transportasi yang meroket, tingkat prustasi yang menanjak, emosi yang menaik, tidak bisa dibayar hanya dengan sekedar BLT yang diberikan pemerintah. Begitu juga mahasiswa menjahit mulutnya sendiri, mogok makan, demo sampai berantam juga menjadi pemandangan sehari-hari. Mereka meminta Tolak Kenaikan BBM.

Lalu pemerintah? Santai saja. Mereka lebih mempertimbangkan mengimbangi kenaikan minyak dunia ketimbang mememperhatikan kemiskinan rakyatnya yang menjadi-jadi. Seperti banyak alternatif yang diusulkan, dari mulai mengurangi biaya perjalanan dinas pejabat dan efisiensi lainnya serta pemotongan gaji bagi pejabat tinggi. Ditambahlagi dengan usulan untuk menarik harta koruptor, tidak menjadi sebuah solusi bagi pemerintah. Boleh dibilang pemerintah mencari gampangnya saja yang penting memenuhi teori ekonomi masa bodoh dengan kenyataan di masyarakat.

Apalagi sudah mendekati 2009 di mana masing-masing sudah mempersiapkan diri untuk menuju pertarungan terbuka. Untuk kampanye sungguh membutuhkan biaya yang sangat mahal. Mereka berani melakukan pengeluaran milyaran rupiah. Bisakah kita menghitung berapa uang yang digunakan untuk mencetak poster, pamplet spanduk dan iklan-iklan di koran dan TV? Sangat mahal pastinya. Nah, kalau dana-dana itu dialokasikan untuk mengatasi kesulitan ekonomi ini bagaimana?

Tunggu dulu. Masa bodoh dengan itu semua, inilah yang berlaku. Di sinilah terlihat bahwa kebanyakan kita hanya memikirkan diri sendiri, jabatan menjadi sebuah tujuan –sangat berbeda dengan Umar Bin Khatab yang menganggap jabatan itu musibah– sehingga untuk mendapatkannya kita lebih banyak menghamburkan uang ketimbang membantu saudara-saudara kita yang berkekurangan. Ironi!

Lalu setelah menjadi pejabat, apakah mereka ingat dengan janji kepada pemilihnya yang akan membawa kemakmuran, kesejahteraan, indonesia maju dll. Kenyataannya seperti ini. Masih perlukah demo BBM, masih perlukah mahasiswa menjahit bibirnya, masih perlukah turun ke jalan-jalan, sungguh hal ini menuntut kerendahan hati semuanya, terutama bagi mereka yang mengubar janji sewaktu kampanye.

Ingat, rakyat tidak bisa berbuat apa-apa sekarang, tapi Allah mencintainya, seluruh beban rakyat ini akan diberikan kepundakmu nantinya sampai engkau tak kuasa lagi berkilah dan berkata manis seperti waktu-waktu kampanyemu.

2 thoughts on “BBM dan Kemiskinan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.