Tragedi Monas

Sangat dikejutkan kita dengan persoalan-persoalan bangsa kita saat ini. Di tengah kesulitan hidup yang melanda rakyat dengan naiknya harga bahan pokok, akibat naiknya BBM. Terjadi pula tragedi monas yang mencorengkan muka Islam di Indonesia. Ya, kekerasan.

Kebanyakan media memblowup peristiwa ini, mereka mengalihkan perhatian yang tadinya penolakan BBM, pembubaran Ahmadiyah menjadi menolak kekerasan dan pembubaran FPI. Sebuah peralihan isyu yang sarat dengan nuansa politik. Siapa yang diuntungkan?

Sangat tidak fair, kita lihat dalam pebelokan isyu ini. Media sebagai kontrol sosial menjadi terperdaya dengan tindakan kekerasan yang padahal sebelumnya dan bahkan bersamaan juga banyak terjadi di Indonesia. Betapa mirisnya kita, ketika terjadi kasus pemukulan mahasiswa Unas oleh aparat dalam kasus penolakan kenaikan BBM, begitu juga kekerasan yang berlaku waktu demo Pilkada di Maluku.

Memang kekerasan bukanlah sebuah solusi dan bukan pula dapat dibenarkan. Namun secara bijak hendaknya dapat digarisbawahi konteks apa yang sedang terjadi. Bak kata pepatah tak ada asap kalau tak ada api. Kita lihat kejadian monas, apinya adalah tuntutan untuk membubarkan Ahmadiyah yang dinilai menodai akidah Islam. Hal ini harus disikapi pemerintah dengan tegas, karena berbagai negara yang beragama Islam seperti saudi sudah menyatakan Ahmadiyah bukan Islam dan umatnya tidak boleh naik haji. Terus kenapa di Indonesia pemerintah tidak berani menyatakan Ahmadiyah bukan Islam, karena tidak sesuai dengan aikidah Islam yang sesuai dengan Al Quran dan Hadist Rasulullah Muhammad SAW.

Jika Ahmadiyah ditetapkan sebagai agama yang bukan Islam, yakinlah tidak akan ada gangguan terhadap umat Ahmadiyah sebagaimana umat Islam menghormati agama lain. Geramnya massa Islam yang berdemo di Monas, dikarenakakan ada pihak-pihak yang membela Ahmadiyah, dengan alasan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Benar, tidak ada paksaan untuk beragama (QS 2:256) tapi jangan menodai agama. 

Kekerasan terjadi pasti bukan tampa alasan, saya pikir lasykar Islam bukanlah orang-orang yang tidak berprikemanusian, kalau dia marah di Monas tentu karena ia juga tersakiti. Apalagi kalau keyakinannya disaikiti. Kita dengar adanya provokasi kepada mereka yang menyatakan mereka lasykar setan dan laskar kafir serta diikuti dengan gertakan pistol. Jelas ini membuat mereka geram dan spontan untuk mengklarifikasi dan terjadilah bentrokan. Psikologis massa ketika itu yang sama-sama terbawa emosi tentu sangat berbeda ketika kita melihatnya dari luar dan tidak dalam saat yang bersamaan di tempat kejadian. Kita hanya melihat asapnya, sehingga kita lebih gampang menilai.

Untuk  ke depan, tentu kita harus kembali memperjuangkan kesejahteraan rakyat dengan meminta ketegasan pemerintah untuk bijak memberikan keputusan aspirasi dari bawah, sehingga efek pertentangan di rakyat akan berkurang. Begitu juga para pemimpin ummat hendaknya lebih dingin memberikan arahan jangan memberikan penjelasan yang membakar jiwa untuk membuat rakyat kelompok yang satu bertempur dengan kelompok yang lain.  Sudahlah, rakyat sudah susah karena kenaikan harga-harga dan kurangnya lapangan kerja jangan ‘dibunuh’ lagi dengan pertempuran yang hanya mendongkrak pamor seseorang di tengah kancah perpolitikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.